Hewan-Hewan Yang Berbahaya Bagi Kehidupan Manusia

Meskipun teknologi kedokteran sudah demikian canggih, bukan berarti penggunaan hewan untuk keperluan manusia lantas ditinggalkan sama sekali. Beberapa hewan bisa dilatih dan diperdayakan untuk mengenali gejala-gejala penyakit berbahaya yang mungkin diidap oleh seseorang. Berikut ini adalah hewan-hewan yang dimaksud.

Tikus

Tikus merupakan hewan yang amat dibenci oleh manusia. Kebiasaannya menggerogoti simpanan makanan dan perabotan milik manusia menyebabkan hewan ini dianggap sebagai hama yang menyebalkan.

Tikus juga dibenci karena hewan ini menjadi perantara menyebarnya penyakit-penyakit mematikan, misalnya penyakit pes. Wabah Maut Hitam yang dulu pernah menewaskan jutaan orang di Eropa diyakini bisa muncul hingga begitu parah akibat disebarkan oleh tikus dan kutu parasitnya.

Meskipun begitu, bukan berarti tikus lantas dijauhi sama sekali oleh manusia. Ukurannya yang kecil dan sifatnya yang mudah berkembang biak menyebabkan hewan ini kerap digunakan oleh ilmuwan untuk keperluan riset dan uji coba obat.

Belakangan ini, manfaat tikus pada manusia bertambah lagi satu. Pada tahun 2021, sekelompok ilmuwan dari Korea Selatan menerbitkan hasil penelitian mereka. Dalam hasil penelitian tersebut, tikus dikabarkan bisa digunakan untuk mendeteksi toluena, cairan berbau menyengat yang biasanya muncul pada penderita kanker paru-paru.

Dalam percobaan yang mereka lakukan, tikus dilatih untuk membedakan toluena dengan senyawa lainnya. Jika tikus tersebut mencium toluena, maka tikus tersebut diharuskan untuk melompat ke papan apung yang sudah dipasang ilmuwan.

Tikus tersebut juga dilatih untuk membaui toluena yang sudah bercampur dengan bau napas manusia. Hasilnya, setelah melakukan percobaan sebanyak ratusan kali, ilmuwan menyimpulkan kalau tikus bisa mengenali bau toluena dengan tingkat akurasi mencapai 82 persen.

Lebah

Lebah adalah serangga yang terkenal dengan dengungannya saat teefbang. Serangga ini juga cukup diwaspadai oleh manusia karena jika lebah terganggu, lebah bisa menyerang manusia memakai sengatnya.

Lepas dari bahaya yang bisa ditunjukkannya, lebah sendiri ternyata sudah lama dianggap sebagai hewan yang bermanfaat bagi manusia. Pasalnya lebah membantu proses perkembangbiakan tanaman dengan cara hinggap pada bunga dan membantu proses penyerbukan.

Manfaat terbesar lebah bagi manusia sendiri adalah kemampuannya dalam menghasilkan madu, cairan manis yang kerap digunakan sebagai campuran makanan. Supaya manusia bisa mendapatkan madu dengan lebih mudah, manusia pun sampai memelihara lebah layaknya hewan ternak. Namun manfaat lebah bagi manusia ternyata masih belum berhenti sampai di sana. Serangga loreng ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengenali penyakit.

Alasan kenapa lebah digunakan untuk keperluan ini adalah karena lebah memiliki indra penciuman yang amat tajam. Kebetulan lebah memang biasa menggunakan antenanya untuk berkomunikasi dan menemukan nektar bunga favoritnya.

Lebah bisa mengenali bau molekul tertentu dalam sebuah ruangan kendati molekulnya hanya berjumlah sedikit. Bukan hanya itu, lebah juga bisa dilatih layaknya anjing dengan memakai iming-iming cairan manis. Kemampuan lebah dalam mengenali bau lantas dimanfaatkan oleh Susana Soares. Wanita asal Portugal itu menciptakan alat khusus supaya manusia bisa memasuki ruangan penuh lebah dengan aman.

Saat sedang berada di dalam ruangan, alat yang dipakai oleh orang tersebut bakal membantu mengalirkan napasnya keluar. Jika lebah yang ada di sekitarnya mengenali bau tertentu, lebah tersebut kemudian akan menunjukkan perilaku khusus. Sejauh ini, lebah sudah digunakan untuk mengenali gejala penyakit TBC dan kencing manis.

Anjing

Anjing adalah hewan yang sangat akrab bagi manusia. Sifatnya yang bersahabat dan mudah dilatih menyebabkan anjing pun kerap dipelihara oleh manusia sebagai hewan penjaga. Anjing juga terkenal dengan indra penciumannya yang amat tajam. Pasalnya anjing memiliki indra penciuman yang 100.000 kali lebih tajam dibandingkan indra penciuman manusia

Oleh sebab itulah, anjing pun kerap digunakan oleh polisi untuk mencari jejak dan menemukan benda-benda terlarang, misalnya narkoba. Manfaat anjing bagi manusia juga turut dirasakan dalam bidang medis. Pasalnya hewan ini bisa dilatih untuj mengenali ada tidaknya kanker dalam tubuh manusia.

Supaya anjing bisa mengenali kanker, maka anjing tersebut harus dilatih terlebih dahulu dengan cara membaui lebih dari 300 macam sampel yang mengandung serpihan kanker. Sampel-sampel tersebut mencakup air liur, gas, darah, bercak pada kain, dan lain sebagainya.

Semut

Selain lebah, semut juga bisa digunakan untuk keperluan deteksi penyakit. Kebetulan semut sebelum ini memang kerap digunakan untuk mencari tahu apakah seseorang terkena kencing manis atau tidak.

Untuk keperluan tersebut, seseorang akan pipis atau buang air kecil di dekat iring-iringan semut. Jika air kencing tersebut dikerumuni oleh semut, maka orang tersebut mungkin menderita kencing manis karena air kencingnya mengandung cairan manis yang disukai oleh semut.

Kendati metode ini banyak dipercaya dan dipraktikkan oleh orang-orang, sekarang metode ini dianggap tidak sepenuhnya akurat. Pasalnya kadang-kadang orang yang sehat sekalipun tetap bakal mengeluarkan kencing dengan kadar gula tinggi. Seseorang baru dinyatakan memiliki diabetes jika ia memiliki gejala-gejala lain yang biasa dijumpai pada penderita diabetes.

Diabetes sendiri bukanlah satu-satunya penyakit yang bisa dikenali dengan bantuan semut. Belakangan, ilmuwan menemukan kalau semut juga bisa digunakan untuk mengenali serpihan tumor atau kanker yang ada pada air kencing.

Metode ini sendiri belum digunakan pada manusia karena ilmuwan baru menguji coba semut sebagai pendeteksi kanker pada tikus. Untuk keperluan ini, semut akan diberikan aneka macam cairan.

Jika semut mengenali adanya serpihan tumor pada cairan, maka semut akan berhenti lebih lama dibandingkan biasanya. Pasalnya semutnya sudah dilatih sedemikian rupa untuk mengharapkan hadiah air gula jika semutnya berhasil menemukan serpihan tumor.

Cacing

Cacing adalah hewan kecil yang bentuknya panjang dan tidak berkaki. Beberapa jenis cacing memiliki citra yang amat negatif di mata manusia. Pasalnya cacing-cacing tertentu (misalnya cacing pita) hidup sebagai parasit pada manusia dan bisa menyebabkan inangnya mengalami masalah kurang gizi.

Namun cacing bukan hanya memiliki dampak negatif bagi manusia. Cacing tertentu ternyata juga bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk mengenali penyakit berbahaya supaya bisa diobati sebelum bertambah parah.

 

Cacing untuk keperluan tersebut adalah cacing gelang yang panjangnya hanya 1 mm dan banyak ditemukan di tanah berlumpur. Lantas, bagaimana cara cacing ini mendeteksi penyakit pada manusia?

Ilmuwan asal Korea Selatan menempatkan puluhan ekor cacing gelang dalam wadah berisi sel manusia sehat dan sel manusia penderita kanker. Saat diamati, ternyata sebanyak 70 persen cacing akan pergi menuju sel kanker.

Ilmuwan menduga kalau cacing gelang tertarik pada kanker karena sel kanker memancarkan senyawa yang baunya seperti apel busuk. Karena cacing gelang mengira kalau bau tersebut adalah bau sampah organik makanannya, cacing gelang pun merasa tertarik dan kemudian pergi menuju sel kanker.

Ilmuwan sekarang sudah tahu kalau cacing gelang menunjukkan ketertarikan khusus pada sel kanker. Hal berikutnya yang kini sedang dijajaki oleh ilmuwan adalah mencari tahu apakah cacing ini juga bisa mengenali sel kanker dalam darah dan air liur manusia sama baiknya.