Mengenal Cara Berkembang Biak Coelacanth

Penelitian terbaru terkait menunjukkan pembentukan beberapa spesies dalam waktu yang singkat, setelah kepunahan massal periode Triassic Tengah, di mana lebih dari 80% spesies lautan lenyap. Para peneliti dari Museum Sejarah Alam Jenewa dan Universitas Jenewa (UNIGE) membandingkan fosil yang ditemukan di Graubünden dan Ticino. Temuan mereka dipublikasikan di jurnal Scientific Reports.

Coelacanth adalah ikan aneh yang saat ini hanya diketahui dari dua yang ditemukan di sepanjang pantai Afrika Timur dan Indonesia. Sirip mereka, di antara ciri-ciri lainnya, menunjukkan bahwa hewan ini secara evolusi lebih dekat dengan vertebrata darat, termasuk manusia, daripada ikan lainnya. Dengan demikian, mereka memberikan gambaran spesies ikan nenek moyang kita. Selama 420 juta tahun keberadaan coelacanth, banyak spesies berbeda telah berevolusi agak lambat, membuat mereka mendapat julukan “fosil hidup”.

Ikan ini merupakan anggota suku Latimeria. Jenis ikan Coelacanth yang dapat dijumpai saat ini berjumlah 2 jenis. Salah satunya dapat dijumpai di Indonesia, yaitu jenis latimeria menadoensis. Para peneliti juga menyebut ikan ini sebagai “fosil hidup “karena bentuk tubuh dan organnya tidak berubah sejak 400 juta tahun yang lalu.

Ikan Coelacanth Manado sejauh ini diketahui ditemukan di perairan Sulawesi dan Papua. Ikan ini hidup di kedalaman 150-200 meter, dengan suhu perairan 17-200 C. Ikan ini beberapa kali ditemukan menghuni lereng vulkanis dan gua-gua bawah laut. Berbeda dengan jenis ikan lain yang umumnya bertelur, ikan Coelacanth ‘melahirkan’ anaknya.

Proses melahirkan terjadi karena telur ikan telah menetas di dalam tubuh, tepatnya di dalam oviduk. Ikan ini memiliki masa mengandung yang cukup lama. Waktu yang dihabiskan sejak telur dibuahi hingga anaknya siap untuk dilahirkan mencapai hingga sekitar 1 tahun.

Selain cara reproduksi yang unik, ikan ini juga memiliki organ yang tidak dimiliki oleh ikan lainnya yaitu paru-paru. Walau demikian, ikan ini tidak menggunakan paru-parunya untuk bernapas. Menyatakan bahwa paru-paru dari ikan ini merupakan organ vestigial yang berarti tidak fungsional. Keunikan hewan ini tidak lepas dari posisinya dalam garis evolusi. Ikan ini diduga berkerabat lebih dekat dengan veterbrata berkaki empat (reptil, amfibi, mamalia, dan burung) dibandingkan dengan jenis ikan lainnya.

Ikan ini termasuk dalam status rentan (vulnerable) dalam daftar merah IUCN. Status tersebut disebabkan oleh faktor alami dan antropogenik. Faktor alami yang menyebabkan hewan ini rentan adalah kemampuan reproduksi ikan Coelacanth  yang rendah dan persebaran yang terbatas.

Sebagai masyarakat Indonesia, kita harus bangga akan kekayaan biodiversitas negeri kita. Jutaan ragam fauna eksotis tentu juga memiliki ragam potensi pengelolaan, tidak terkecuali ikan Coelcanth. Kebanggan ini tentunya harus diikuti dengan upaya untuk menjaga kelestarian fauna Indonesia. Karena kehidupan yang kita jalani, sesungguhnya ditopang oleh jasa flora dan fauna di luar sana.

Beberapa tahun yang lalu, dua fosil coelacanth, yang ditemukan di bebatuan Trias di wilayah Grisons di Swiss timur, ditemukan sebagai spesies baru yang sangat aneh, Foreyia maxkuhni, dengan tubuh sangat pendek dan tengkorak berbentuk kubah. .

Penemuan pertama ini mendorong para peneliti untuk melihat fosil coelacanth lain yang ditemukan di Situs Warisan Dunia UNESCO Monte San Giorgio di Ticino (Swiss Italia). Fosil-fosil ini seusia dengan yang berasal dari Graubünden. Spesimen ini ditemukan pada pertengahan abad ke-20 dan disimpan di Museum Paleontologi di Zürich. Mereka tidak pernah dipelajari secara rinci karena sulitnya menafsirkannya.

Dalam tesis doktoralnya, Christophe Ferrante, seorang peneliti di Fakultas Sains UNIGE, menunjukkan bahwa itu adalah spesies baru coelacanth, yang evolusionernya sangat dekat dengan spesies dari Graubünden, bernama Rieppelia heinzfurreri. Beberapa fitur dari spesies ini mirip dengan Foreyia sementara yang lain anehnya berlawanan:

satu memiliki kaki depan kecil dan satu memiliki kaki depan besar, satu memiliki insang kecil dan yang lainnya memiliki insang besar, dll. Kajian ini menunjukkan bahwa kedua spesies ini (serta dua lainnya dengan morfologi yang lebih klasik) merupakan bagian dari radiasi evolusioner kecil, yaitu pembentukan beberapa spesies dalam waktu singkat dan ruang pengumpulan yang sempit. Fenomena ini telah diamati pada beberapa kelompok organisme, tetapi pertama kali diidentifikasi pada coelacanth.

Coelacanth Swiss yang hidup sekitar 10 juta tahun setelah kepunahan massal Trias ini, menunjukkan bahwa ia masih dapat memanfaatkan kondisi khusus lingkungan pasca kepunahan Bumi untuk berevolusi menjadi bentuk yang unik sepanjang sejarahnya. Relung ini kemudian diinvestasikan kembali oleh kelompok lain, termasuk semua kelompok ikan bertulang besar yang masih menempatinya hingga saat ini.