Mengenal Ciri Khas Pohon Darah Naga

Tanaman bernama Dracaena cinnabari berasal dari kepulauan Socotra di Yaman. Tumbuhan ini juga disebut Suji Socotra dan Suji Darah Naga. Jenis pohon cemara ini tidak biasa. Tumbuhan ini pertama kali dideskripsikan oleh Isaac Bayley Balfour pada tahun 1882, dan dia menyebutnya “darah naga” karena getah berwarna merah darah akan keluar dari batangnya. Namanya naga karena menurut legenda, seekor naga dikutuk menjadi pohon karena menghancurkan surga.¬† Sebagian besar orang percaya pohon ini ada sejak lebih dari lima puluh juta tahun yang lalu dan pertama kali muncul di Mediterania.

Pohon ini adalah keajaiban alam yang menghadirkan keindahan dan keunikan tersendiri. Dengan keunikannya tersebut, darah naga menjadi salah satu spesies pohon yang menarik perhatian para ilmuwan, wisatawan, dan pencinta alam di seluruh dunia.

Pohon ini merupakan pohon yang bisa menghasilkan bunga dan buah. Pohon tersebut menghasilkan bunga kecil, yang berwarna putih dan hijau dengan aroma yang harum. Pohon tersebut menghasilkan buah beri kecil yang mengandung satu hingga tiga buah biji. Buah tersebut memiliki warna jingga dan butuh waktu untuk matang selama lima bulan setelah penyerbukan.

Getah merahnya akan dikeringkan dan digunakan sebagai obat atau pewarna. Penduduk Socotra menggunakannya sebagai obat mujarab yang diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Getah ini sudah terbukti selama berabad-abad dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Sementara itu, di Negara Barat, getah pohon ini banyak digunakan sebagai pernis merah untuk pewarna biola. Selain itu, getah tersebut juga digunakan sebagai pernis dalam ukiran untuk mencegah pelemahan permukaan selama pengukiran.

Pohon darah naga dapat disebut sebagai ikon Socotra. Bentuknya unik seperti payung. Karena kemujarabannya, masyarakat Socotra bahkan menganggap pohon ini layaknya dukun dan penyembuh spiritual. Oleh karena itu, getah pohon ini dijadikan obat oleh penduduk. Ramuan ini sudah mereka turunkan selama berabad-abad.

Di balik mitos dan getah uniknya, pohon darah naga juga spesial karena bentuk dan cara bertahan hidupnya. Socotra yang kering justru membuat pohon ini tumbuh pesat. Pohon ini bisa tumbuh di tanah yang memiliki beberapa retakan. Pohon ini mendapatkan kelembapan dan makanan dari air yang merembes menuruni celah ranting sehabis hujan.

Pohon ini juga memiliki lapisan lilin pada daunnya yang berfungsi untuk menyimpan air yang kemudian disalurkan ke seluruh bagian pohon. Bentuknya seperti payung juga memiliki manfaat tersendiri, yaitu membuat akar pohon dan bibit pohonnya menjadi teduh sehingga penguapan berkurang.

Socotra tempat tumbuh pohon darah naga adalah pulau kecil di kepulauan Yaman dan Somalia. Tepatnya terletak di Laut Arab, sekitar 340 kilometer dari pantai Yaman. Pulau Socotra dikenal karena keunikannya, berbeda dengan pulau lain. Tanah tandus dan pohon darah naga yang unik membuat Socotra terlihat seperti tempat tinggal alien dan dijuluki pulau terasing. Ekosistem di sana berbeda dari daratan lain di bumi. Tak ada bangunan megah atau hotel di sana.

Penduduknya yang hanya  puluhan ribu orang cukup lama terputus dari dunia luar. Pulau ini masuk dalam situs warisan dunia UNESCO sebagai cagar biosfer manusia. Adanya pohon darah naga yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit membawa berkah tersendiri bagi penduduk di pulau terisolasi ini, mengingat sulitnya akses untuk mendapatkan pelayanan medis.

Pohon ini memiliki potensi untuk hidup mencapai usia ratusan tahun. Rata-rata pohon tersebut bisa hidup mencapai 400 hingga 500 tahun. Namun, terdapat juga beberapa pohon darah naga yang dapat hidup lebih dari 600 tahun. Hal ini menunjukkan ketahanannya dalam menghadapi tantangan alam.