Mengenal Kain Songket Khas Sumatera Barat

Di Sumatera Barat, ada tempat yang sangat terkenal untuk membuat kain tenun songket. Dalam edisi tahun 2001, uang kertas pecahan lima ribu rupiah bahkan menggunakan seni tenun sebagai ilustrasi. Salah satu nagari di Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, dikenal dengan tenun songket Pandai Sikek.

Nagari ini sejak lama dikenal dengan kain tenun songket yang indah. Penggunaan benang emas dan perak saat menenun kain sutera adalah ciri khas tenunan songket Sumatera Barat ini, yang menghasilkan kain yang mewah dan elegan. Tak mengherankan jika tenun songket menjadi simbol status sosial dan kemewahan.

Kain tenun songket Pandai Sikek dibuat serba manual dan tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Lamanya proses pembuatan tergantung dari ukuran, jenis dan kehalusan kain, dan kerumitan motifnya. Karena itu, harga kain songket Pandai Sikek juga dikenal mahal harganya.

Terdapat dua jenis kain tenun songket yang dihasilkan para perajin tenun Pandai Sikek, yakni kain songket balapak dan kain songket batabua (bertabur). Pada kain songket balapak atau juga disebut kain tenun sarek, hiasan motif dari benang emas atau perak memenuhi seluruh bidang permukaan kain. Sementara pada kain songket batabua (bertabur) atau biasa disebut kain songket babintang (berbintang), hiasan motif tersebar pada bagian tertentu saja.

Sebenarnya tidak ada aturan khusus mengenai jenis kain songket yang digunakan. Tapi biasanya orang kaya atau golongan bangsawan memilih kain songket balapak dengan teknik (tuhuak) dua agar benang emas pada ragam hias terlihat padat dan rapat. Sementara rakyat biasa memilih kain tenun songket balapak dengan teknik empat dan enam agar warna kuning keemasan pada ragam hias tak terlalu dominan.

Motif ragam hias pada tenunan pandai sikek adalah motif cukie dan sungayang. Cukie adalah sebuah pola yang mengisi bagian-bagian dari kain yaitu di badan kain, kepala kain, pinggir kain, dan cukie untuk biteh yang membatasi antar beberapa motif. Sedangkan sungayang adalah corak keseluruhan kain tenun atau songket. Kain tenun songket Pandai Sikek memiliki banyak motif. Beberapa motif yang khas seperti saik kalamai, buah palo, barantai putiah, tampuak manggih, salapah, dan simasam.

Kendati demikian, ada tiga jenis motif yang wajib ada dan menjadi ciri khas kain tenun songket Pandai Sikek: batang pinang (pohon pinang), bijo bayam (biji bayam), dan saluak laka. Jika selembar kain tenun songket tidak memiliki ketiga motif tersebut, ia dianggap bukan hasil karya para perajin Pandai Sikek. Sementara warna dasar yang dipakai umumnya merah dan hitam, dengan warna ragam hias kuning keemasan.

Hasil kerajinan tenun songket Pandai Sikek tidak hanya terbatas pada beragam pakaian seperti baju kurung dan destar, tapi juga berbagai kelengkapan upacara adat dan perkawinan seperti kodek songket, saruang balapak, saruang batabua, selendang songket atau selendang batabua tingkuluak tanduak (tutup kepala perempuan), dan sisampiang (salempang yang biasa digunakan penghulu).

Kain songket ini sering dikenakan untuk menghadiri acara adat setempat, saat pernikahan dan untuk keseharian. Kain tersebut dikenakan sebagai pembuatan baju atasan, bawahan, selendang atau kain selempang, dan juga penutup kepala.

Pemakaian benang emas dan perak, motif, dan penggarapan yang halus adalah ciri khas kain tenun songket Pandai Sikek. Salah satu kain songket terbaik karena kekhasan ini. Banyak orang terpikat pada kain unik ini. Pandai Sikek berjarak 13 km dari Bukittinggi dengan transportasi umum. Oleh karena itu, jika Anda bepergian ke Sumatera Barat, pastikan untuk mengunjungi Pandai Sikek untuk membeli kain istimewa ini langsung di tempatnya.