Mengenal Pengobatan Atresia Bilier

Atresia bilier adalah kondisi yang agak langka di mana saluran empedu yang mengalirkan empedu dari organ hati ke kantong empedu tersumbat. Kelainan kongenital ini terjadi karena saluran empedu di dalam dan di luar organ hati tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya, cairan empedu yang diproduksi hati akan menumpuk dan dapat merusak organ hati.

Mengenal Atresia bilier

Tersumbatnya saluran empedu pada organ hati bayi baru lahir disebut atresia bilier. Cairan empedu diproduksi dan dilepaskan oleh organ hati. Kemudian, cairan empedu mengalir ke usus melalui selang yang disebut ductus, yang membantu metabolisme tubuh memecah dan menyerap nutrisi dari makanan. Jika saluran ini tersumbat, cairan empedu akan menumpuk pada organ hati.

Hal ini akan merusak hati dan menyebabkan jaringan parut. Ini menyebabkan sirosis dan penurunan fungsi hati. Sampai saat ini, tidak ada penyebab yang diketahui untuk atresia bilier. Namun, beberapa faktor yang dianggap dapat menyebabkannya adalah:

  • Peradangan (pembengkakan) dan jaringan parut karena pengaruh sistem imun tubuh
  • Infeksi virus
  • Paparan terhadap zat kimia berbahaya
  • Mutasi (perubahan) genetik. Atresia bilier tidak diturunkan dari orangtua

Gejala atresia billier

Bayi baru lahir dengan kondisi atresia bilier dapat terlihat normal saat lahir.  Akan tetapi, saat memasuki usia 3-6 minggu, akan muncul gejala awal atresia bilier berupa kekuningan pada kulit dan bagian putih pada mata (jaundice) akibat penumpukan bilirubin dalam darah.

Berat badan bayi juga akan normal pada bulan pertama, namun setelah itu bayi akan kehilangan berat badan dan jaundice akan semakin bertambah parah.

Beberapa tanda dan gejala lain pada atresia bilier termasuk:

  • Kotoran berwarna pucat atau krem muda (normalnya, kotoran bayi berwarna kuning, hijau atau cokelat)
  • Urine yang berwarna cokelat gelap
  • Pembengkakan pada perut akibat pembesaran organ hati dan limpa
  • Berat badan yang sulit naik
  • Asites (penumpukan cairan pada perut)
  • Gagal organ hati setelah beberapa bulan jika tidak ditangani

Sebagian bayi baru lahir dapat mengalami kuning pada minggu pertama setelah lahi. Akan tetapi apabila terus berlanjut hingga 2 minggu, maka hal tersebut harus dikonsultasikan pada dokter.

Diagnosa atresia bilier

Untuk mendeteksi dan mendiagnosa atresia bilier, dokter akan menilai riwayat kesehatan bayi dan melakukan pemeriksaan fisik. Selain itu, dokter juga akan menyarankan beberapa pemeriksaan tambahan lain seperti:

  • Pengambilan sampel darah untuk memeriksa kadar bilirubin dan melihat tanda kerusakan organ hati
  • Ultrasound, untuk melihat gambaran struktur organ dalam tubuh
  • Biopsi liver, pengambilan sampel jaringan dari organ hati untuk pemeriksaan
  • Pemindaian hepatobilier, untuk menilai kondisi saluran empedu
  • Cholangiogram, merupakan prosedur injeksi zat pewarna ke dalam kantong empedu untuk menilai kondisi saluran empedu. Apabila tidak ditemukan, makan dokter dapat mendiagnosa atresia bilier.

Pengobatan atresia biller

Hingga saat ini belum ada pengobatan untuk atresia bilier. Terapi utama atresia bilier adalah prosedur operasi Kasai.  Pada prosedur Kasai, dokter akan mengangkat saluran empedu yang rusak keluar dan menggantinya dengan bagian dari usus pasien sendiri.

Saluran yang berasal dari usus tersebut kemudian akan mengalirkan cairan empedu langsung ke dalam usus.  Operasi ini umumnya berhasil pada sebagian besar kasus atresia bilier pada bayi yang berusia di bawah 8 minggu. Namun, jika operasi ini tidak berhasil, individu memerlukan prosedur transplantasi organ hati.